Eraklasik.info, membahaskan mengenai agama, kesihatan, metafizik, herba, penyakit, tokoh, kisah, tips, sains, fakta etc

Kekuatan Umat Islam

 salahuddin_al_ayyubi

Kekuatan Umat Islam

بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Upaya meruntuhkan kekuatan umat Islam

Sufi adalah istilah atau nama bagi mereka yang menjalankan tasawuf dalam Islam atau mereka yang memperjalankan dirinya agar sampai (wushul) kepada Allah. Mereka yang ingin bertemu dengan Sang Kekasih baik ketika di dunia dan di akhirat kelak. Mereka yang ingin dapat melihat Allah ta’ala baik di dunia mau pun di akhirat kelak.

Salah satu imam kaum sufi yang juga merupakan wali Allah adalah Imam Sayydina Ali ra

Imam Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi’lib Al-Yamani,
“Apakah Anda pernah melihat Tuhan?”
Beliau menjawab, “Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?”
“Bagaimana Anda melihat-Nya?” tanyanya kembali.
Sayyidina Ali ra menjawab “Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangan manusia yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati”.

Atas kehendak Allah ta’ala telah terjadi fitnah yang dilakukan orang Yahudi kepada Imam Sayyidina Ali ra, akibatnya segelintir umat Islam takut memperdalam apa yang telah disampaikan oleh khataman (penutup) Khulafaur Rasyidin.  Imam Sayyidina Ali ra kepada puteranya lebih mengutamakan menyampaikan tentang akhlak atau tentang Ihsan daripada perkara syariat. Imam Sayyidina Ali ra  khawatir terhadap puteranya akan dibingungkan oleh hal-hal yang diperselisihkan di antara manusia, akibat perbedaaan pandangan di antara mereka dan diperburuk oleh cara berpikir yang kacau, cara hidup yang penuh dosa, egoisme dan kecenderungan hawa nafsu mereka, sebagaimana membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri.

Salah satu ulama kaum sufi, Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.

Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.

Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah (keesaan)-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum (berdiri sendiri)-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)

Firman Allah yang artinya,
[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.

[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47)

Adalah dalam rangka menjelaskan apa langkah selanjutnya setelah kita berusaha memenuhi syarat awal sebagai hamba Allah atau memenuhi perkara syariat yakni syahadat, menunaikan sholat wajib lima waktu, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji bagi mereka yang telah menjadi kewajiban.

Langkah-langkah setelah sampai ilmu kepada kita dan kita melakukan amal berdasarkan ilmu adalah menjalani (suluk) diri kita berikut amal agar sampai (wushul) kepada Allah Azza wa Jalla atau dengan kata lain-lain langkah-langkah mendekatkan diri kepada Allah sehingga menjadi kekasih Allah atau Wali Allah.

Langkah-langkah ini dijelaskan oleh para ulama Sufi salah satu diantaranya adalah Syaikh Abdul Qadir Jailani yang merupakan Wali Allah dan telah mendapat “panggilan” Abdullah (hamba Allah).

Dari Said ra, ia berkata:

َعْنَس ِعٍديَر ِضَىُللها َع ْنُهَق َلا :ُسِئَلَر ُسُلوِللها َصَّىلُللها َع َلْيِه َوَسَّلَمَم ْنَأ ْوِلُءآيِللها َق ؟َلا :َاَّلِذَنيِإ َذُر اُؤُذ اِكَرُللها َع َّزَوَجَّل.

“Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya: “Siapa wali-wali Allah?”

Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah. (Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6)

Cobalah kita “melihat” Syaikh Abdul Qadir Jaeiani melalui kitab/tulisannya maka akan mengingatkan kita kepada Allah
Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/ 820-935M) bahwa muslim pada umumnya yang mengesakan Allah (al-muwahhidun) disebut ahl al-tawhid. Seorang ahli al-tawhid telah keluar dari kekufuran dan telah memiliki cahaya iman. Dengan modal tauhid dan keimanan tersebut, ahli al-tawhid pada dasarnya telah mendekatkan diri kepada Allah. Al-Hakim al-Tirmidzi menganggap hal ini sebagai awwal manazil al-qurbah (permulaan peringkat kedekatan kepada Allah); namun masih berada pada posisi qurbat al-’ammah (kedekatan secara umum), bukan qurbat al-awliyâ` (kedekatan para wali). Jadi perlu langkah-langkah qurbat al-’ammah (kedekatan secara umum), menuju qurbat al-awliyâ` (kedekatan para wali).

Menurut al-Tirmidzi ada dua jalur langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian. Jalur pertama disebut thariq ahl al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah); sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah).

Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat wali di hadapan Allah semata-mata karena karunia-Nya yang di berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.

Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat wali berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah.

Bagaimanakah kita mengetahui benar dalam beribadah atau bagaimanakah kita mengetahui ibadah atau amal sampai kepada Allah ta’ala ?

Urutannya adalah ilmu -> amal -> akhlak
Benar dalam beribadah akan mewujudkan akhlak yang baik.

Proses dari amal menjadi akhlak yang diuraikan dalam  tasawuf atau tentang akhlak atau tentang Ihsan. Sejak dahulu kala di perguruan tinggi Islam tentang tasawuf adalah tentang akhlak atau tentang Ihsan

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11)

Amal yang benar akan terwujud akhlak / ihsan, selalu merasa diawasi/dilihat Allah atau dapat melihat Allah.

Contohnya ibadah sholat.  Barangsiapa yang merasa diawasi Allah -Maha Agung sifatNya atau mereka yang dapat melihat Rabb dengan sholatnya  maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, sehingga ia tidak berzina, tidak melakukan riba, tidak dengki, tidak iri, tidak menunda hak-hak manusia, tidak menyia-nyiakan hak keluarganya, familinya, tetangganya, kerabat dekatnya, dan orang-orang senegerinya . Inilah yang dimaksud ibadah sholat yang benar akan mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS al Ankabut [29]:45)

Pada masa kini segelintir ulama tidak lagi menyampaikan tentang Ihsan (akhlak atau tasawuf). Mereka hanya menyampaikan tentang Iman (rukun Iman atau Ushuluddin/i’tiqod) dan tentang Islam (rukun Islam atau fiqih).

Padahal Imam Syafi’i rahimahullah telah menasehatkan
“Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya. Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mau menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kenikmatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mau mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik (ihsan).  [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

Berkata Imam Malik:“Sesiapa yang belajar ilmu feqah tetapi tidak belajar ilmu tasawwuf, maka ia adalah fasiq. Sesiapa yang belajar ilmu tasawwuf tetapi tidak belajar ilmu feqah maka ia adalah zindiq, dan sesiapa yang mengumpulkan kedua-duanya, maka ia adalah ahli haqiqat.” (Shaykh al-Fasi, Qawaid al-Tasawwuf).

Ulama yang tidak memperdalam dan menyampaikan tentang Tasawuf adalah mereka yang terkena pengaruh ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi melalui pusat-pusat kajian Islam yang mereka dirikan.

Seorang orientalis yang dikenal sebagai Laurens Of Arabian sebenarnya adalah seorang perwira Yahudi Inggris bernama Edward Terrence Lawrence.   Laurens Of Arabian telah melakukan kajian kekuatan utama kaum muslim dan berkesimpulan kekuatan umat Islam karena kukuh (istiqomah) pada ilmu yang dipahami oleh para Imam Mazhab atau bermazhab dan menjalankan amal tarekat. Kaum muslim ketika itu  adalah orang-orang yang paling gigih menentang penjajahan dan menangkis kepura-puraan yang ditaburkan oleh musuh-musuh Islam. Laurens telah membuktikan hujjahnya dengan sejarah, bagaimana gerakan tarikat Idrisiah di Maghribi (Maroko) berhasil dengan gemilang merebut kemerdekaan dari penjajajah. Raja-raja kerajaan Osmaniah dan para tentaranya adalah terdiri dari ahli-ahli tharikat. Mereka berkhalwat beberapa hari sebelum keluar berperang.

Sultan Salahuddin Al-Ayyubi, seorang pemimpin, ulama dan pahlawan Islam yang agung yang terkenal sebagai pejuang yang memimpin kerajaan Islam dalam menentang kemaraan tentera Salib Kristian, adalah seorang yang berminhaj (pegangan) Asya’irah dan Sufi di bawah tarikat Qadiriyyah dan bantuan dan pertolongan Allah telah zahir kepada beliau dalam beberapa bentuk yang cukup menakjubkan, sekiranya direnung dan difikirkan hikmahnya secara mendalam.

As Syahid Omar Mokhtar pejuang terakhir benteng pertahanan terakhir khalifah Osmaniah adalah pengamal tarekat. Begitu juga As Syahid Hassan Al-Bana seorang yang bertarekat.

Di Nusantara sendiri pejuang-pejuang kemerdekaan kebanyakan adalah pengamal-pengamal tarekat belaka seperti Tokku Paloh diikuti oleh anak-anak murid beliau seperti Dato Bahaman, Mat Kilau, waima Almarhum Syeikh Daud Al Fathani bila menpertahankan tanah airnya dari serangan tentera Siam. Begitu juga tokoh ulama Indonesia seperti Raja Haji di Riau dan Imam Bonjol di Aceh.

Di negara-negara Asia Timur, Laurens Of Arabian mengupah seorang ulama yang anti tharikat dan anti mazhab untuk menulis sebuah buku yang menyerang tarikat. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dibiayai oleh pihak orientalis.

Hasutan pencitraan yang buruk terhadap Tasawuf, pada masa kini dapat terlihat pada para pengikut ulama Muhammad bin Abdul Wahhab (Salafi Wahhabi). Abuya Prof. DR. Assayyid Muhammad bin Alwi Almaliki Alhasani menyampaikan dalam makalahnya bahwa dalam kurikulum tauhid kelas tiga Tsanawiyah (SLTP) cetakan tahun 1424 Hijriyyah di Arab Saudi berisi klaim dan pernyataan bahwa kelompok Sufiyyah (aliran–aliran tasawuf) adalah syirik dan keluar dari agama.

Para penguasa kerajaan dinasti Saudi juga menyusun kurikulum pendidikan bekerjasama dengan Amerika yang dibaliknya adalah kaum Zionis Yahudi sehingga memungkinkan tercampur ghazwul fikri.

Pusat-pusat kajian Islam yang didirikan oleh kaum Zionis Yahudi membangkitkan anti mazhab dengan menyerukan umat muslim agar masing-masing merujuk kepada Al Qur’an dan Hadits. Pintu ijtihad harus dibuka seluas-luasnya.  Seruan yang halus dan terlihat baik namun pada hakikatnya jika kaum muslim masing-masing berijtihad bahkan beristinbat (menggali hukum) dari Al Qur’an dan Hadits tanpa memperhatikan kompetensi maka justru akan merusak hukum-hukum dalam Islam sehingga akan timbul perselisihan dan perpecahan.

Mereka melalui paham liberalisme disusupkan kepada kaum muslim yang belajar ke “barat” sedangkan kaum muslim yang belajar ke “timur”, mereka membantu mengangkat kembali pemahaman ala Ibnu Taimiyah, ulama yang terkenal sebagai pendobrak pintu ijtihad (pendapat) namun beliau tidak berkompetensi sebagai Imam Mujtahid.

Ulama besar Syria, DR. Said Ramadhan Al-Buthy telah melakukan dialog dengan ulama Al Albani yang sama-sama tinggal di Syiria dan  ditengarai sebagai salah satu ulama yang anti mazhab.

Kesimpulan dari dialog yang tidak menemukan titik temu,  DR Said Ramadhan Al-Buthy menuliskan dalam tulisan  berjudul  Al-Laa Mazhabiyah, Akhtharu Bid’atin Tuhaddidu As-Syariah Al-Islamiyah. Kalau kita terjemahkan secara bebas, kira-kira makna judul itu adalah : Paham Anti Mazhab, Bid’ah Paling Gawat Yang Menghancurkan Syariat Islam.

Ustadz Ahmad Sarwat Lc mengulas buku tersebut dan menyampaikan sebagai berikut,

Menurut Al-Albani, semua orang haram hukumnya merujuk kepada ilmu fiqih dan pendapat para ulama. Setiap orang wajib langsung merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Dan untuk memahaminya, tidak diperlukan ilmu dan metodologi apa pun. Keberadaan mazhab-mazhab itu dianggap oleh Al-Albani sebagai bid’ah yang harus dihancurkan, karena semata-mata buatan manusia.

Tentu saja pendapat seperti ini adalah pendapat yang keliru besar. Ilmu fiqih dan mazhab pada ulama yang ada itu bukan didirikan untuk menyelewengkan umat Islam dari Al-Quran dan As-Sunnah. Justru ilmu fiqih itu sangat diperlukan sebagai metodologi yang istimewa dalam memahami Quran dan Sunnah.

Menurut DR. Said Ramadhan Al-Buthy, kedudukan ilmu fiqih kira-kira sama dengan kedudukan ilmu hadits. Keduanya tidak pernah diajarkan secara baku oleh Rasulullah shallallahu  alaihi wasallam. Ilmu hadits atau juga dikenal dengan ilmu naqd (kritik) hadits, juga merupakan produk manusia, hasil ijtihad (pendapat), bukan ilmu yang turun dari langit.

Ulama Al Albani adalah contoh ulama yang terhasut paham anti mazhab dan sekaligus beliau tidak memahami tentang tasawuf atau mendekatkan diri kepada Tuhan atau Ihsan. Hal ini terbukti ketika beliau salah memahami perkataan Rasulullah yang artinya,
“Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh dariNya” (diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam al-Kabir nomor 11025, 11/46)

“matan (redaksi) hadits ini tidak sah, sebab zahirnya mencakup orang yang melakukan shalat lengkap dengan syarat dan rukun-rukunnya. Yang mana syari’at ini menghukum sah. Meski pun orang yang melakukan shalat tersebut terus menerus melakukan beberapa maksiat, maka bagaimana mungkin hanya karena itu, shalatnya tidak akan menambah kecuali jarak yang semakin jauh. Hal ini tidak masuk akal dan tidak disetujui oleh syari’at ini”

Upaya meruntuhkan kekuatan umat Islam yang dilakukan oleh kaum Zionis Yahudi melalui ghazwul fikri dengan mengangkat kembali pemahaman Ibnu Taimiyyah tampak telah membuahkan hasil.

Ulama mereka yang terkena ghazwul fikri (perang akal) telah menyalahkan atau menuduh sesat atau bahkan mengkafirkan ulama lainnya. Dengan pemaham Ibnu Taimiyah, ulama mereka menyalahkan atau menuduh sesat ulama-ulama terdahulu seperti Imam Baihaqy, Imam An-Nawawy dan Ibnu Hajar

Kami kutipkan di sini.
“Wahai Syaikh, engkau membawakan biografi 3 ulama terdahulu yaitu Al-Baihaqy, An-Nawawy dan Ibnu Hajar. Mereka terjatuh pada penafsiran terhadap sebagian sifat-sifat Allah. Mereka memiliki karya-karya tulis yang besar dan berfaedah. Oleh karena itulah Ahlus Sunnah memandang bahwa manusia sangat memerlukankan untuk mengambil faedah dari kitab-kitab mereka selain kebid’ahan (perkara baru) yang mereka terjatuh padanya.“

Mereka berpendapat bahwa sifat-sifat Allah yang disampaikan oleh Imam Baihaqi, Imam Nawawi dan Ibnu Hajar telah terjatuh dalam kebid’ahan alias kesesatan.

Pendapat serupa diutarakan seperti
“Ibnu Hajar dan An Nawawi rahimahumallah memang dalam beberapa masalah aqidah terdapat ketergelinciran terutama dalam pembahasan Asma’ wa Shifat (nama dan sifat Allah), di mana mereka berdua di antara orang yang mentafsir makna nama dan sifat Allah tanpa dalil. Namun demikianlah kesalahan ini tertutupi dengan kemanfaatan ilmu dan keutamaan mereka. Moga Allah merahmati mereka.“

Fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-’Ilmiyyah wal Ifta` (Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) kerajaan dinasti Saudi ditanya tentang aqidah Imam Nawawi dan menjawab: “Lahu aghlaath fish shifat” (Beliau memiliki beberapa kesalahan dalam bab sifat-sifat Allah)

Kaum muda negeri kita setelah mereka mengenyam pendidikan agama yang mengikuti pemahaman Ibnu Taimiyah atau kaum muda yang berguru dengan lulusan pendidikan yang mengikuti pemahaman Ibnu Taimiyah, kemungkinan besar akan berkeyakinan bahwa peringatan Maulid Nabi adalah perbuatan termasuk bid’ah dlolalah (perkara baru yang sesat) dan segala kesesatan bertempat di neraka. Bahkan bersalam-salaman setelah mengucapkan salam pada saat sholat berjamaah akan dapat menghantarkan ke neraka, berdasarkan kesalahpahaman mereka tentang bid’ah.

Kaum muda kita seolah telah kehilangan akal qalbu mereka. Peringatan Maulid Nabi di negeri kita yang telah dilakukan oleh para ulama kita sejak dahulu kala dan para Wali Songo yang merupakan Wali Allah generasi ke sembilan juga melakukan peringatan Maulid Nabi.  Begitupula Majelis Ulama Indonesia sejak didirikan tidak pernah memfatwakan ( memberi pendapat) haram terhadap peringatan Maulid. Ulama-ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia  tentulah  mereka adalah pakar-pakar ulama yang telah mendalami Al Qur’an dan Hadits .

Mereka telah nyata terkena ghazwul fikri (perang pemahaman) yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi dan menjadi cobaan bagi kita kaum muslim pada umumnya.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan kesabaran bagi kita kaum muslim pada umumnya untuk menghadapi cobaan ini dan Allah Azza wa Jalla memberikan kekuatan dan kemudahan untuk dapat mengembalikan pemahaman mereka sebagaimana pemahaman para ulama negeri kita sendiri, dimana diantara para ulama kita masih dapat “mendatangi” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan sarana yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla

والله أعلمُ بالـصـواب

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google translate

Top 5 Web Hosting Terbaik Malaysia