Eraklasik.info, membahaskan mengenai agama, kesihatan, metafizik, herba, penyakit, tokoh, kisah, tips, sains, fakta etc

Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf

 

ohmedia-masjid-plg-cantik-dunia-10

 

بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Pada awal perkembangan islam ilmu tasawuf masih belum dikenali, begitu juga dengan cabang ilmu yang lain seperti ilmu fekah, ilmu tauhid tau ilmu tafsir. Secara tak langsung akhlak, kezuhudan dan kerohanian baginda Rasullulah s.a.w itu sendiri telah mencerminkan wajah tasawuf.

Firman Allah swt :

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab (33): 21)

Firman Allah Swt

“Dan sesungguhnya kami (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS.Al Qalam:4) 

 

Zaman Sahabat

Di zaman para sahabat pula lahirlah tokoh-tokoh sufi yang lebih menonjol seperti Imam Ali bin Abi Talib. Ahlul bait, menantu kepada Rasulullah saw. Ianya seorang yang miskin sangat zuhud dalam kehidupannya. Abi Talib memiliki keistimewaaan tersendiri dengan pengertian-pengertiannya yang mendalam, isyarat-isyaratnya yang halus, menghuraikan maksud tersirat Ungkapannya tentang ilmu tauhid, makrifat, ketuhanan, hal-hal yang luhur, nasihat dan sebagainya yang menjadi pegangan serta teladan para sufi yang kemudiannya.

Huzaifah binYaman beliau adalah manusia yang disebut sebagai penjaga rahsia Nabi Saw menyebabkan banyak nama-nama para munafiq berada ditangan beliau. Semuanya ini disebabkan kepercayaan yang diberikan oleh Nabi kepada beliau. Beliau diberikan kelebihan oleh Allah, bahawa mempunyai firasat yang sangat tinggi, sehinggakan beliau mampu menafsirkan wajah manusia tentang apa yang terkandung dalam hati mereka.

Suatu ketika Huzaifah ditanya tentang bimbangan Rasullulah kepadanya. Huzaifah menyatakan bahawa orang selalu bertanya kepada Rasullulah saw tentang yang baik-baik dari suatu amal , sedang aku bertanya tentang buruk atau tercela suatu amalan yang dengan itu aku boleh menghindarinya dengan tepat. Menurut Huzaifah, “Orang tidak akan mengenal kebaikan yang sempurna tanpa mengetahui keburukannya.” 

Selain mengacu pada kehidupan keempat khalifah di atas, para ahli sufi juga merujuk pada kehidupan para “Ahlus Suffah” yaitu para sahabat Nabi saw. yang tinggal di pinggir masjid Nabawi di Madinah dalam keadaan serba miskin namun senantiasa teguh dalam memegang akidah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Diantara para Ahlus Suffah itu ialah,sahabat Abu Hurairah, Abu Zar al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Muadz bin Jabal, Imran bin Husain, Abu Ubaidah bin Jarrah, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas dan Huzaifah bin Yaman dan lain-lain. Firman Allah swt  tentang Ahli Suffah yang digambarkan oleh Allah S.w.t di dalam Al Quran:

“Dan jadikanlah dirimu sentiasa berdamping rapat dengan orang-orang yang beribadat kepada Tuhan mereka pada waktu pagi dan petang, yang mengharapkan keredaan Allah semata-mata; dan janganlah engkau memalingkan pandanganmu daripada mereka hanya kerana engkau mahukan kesenangan hidup di dunia; dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam Al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkah-lakunya pula adalah melampaui kebenaran.” (Surah al-Kahfi ayat 28)

 

a. Sejarah perkembangan pada abad pertama dan ke-dua Hijrah

Pada tahap ini, tasawuf masih berupa  zuhud. Perkembangan tasawuf pada masa tabi’in
Ulama-ulama sufi dari kalangan tabi’in adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan shahabat. Kalau berbicara tasawuf dan perkembangannya pada abad pertama, dengan mengemukakan tokoh-tokohnya dari kalangan shahabat, maka pembicaraan perkembangan tasawuf pada abad kedua dengan tokoh-tokohnya pula. Tokoh-tokoh ulama sufi Tabi’in antara lain

  1. Hasan Al Basri(w 110).  Tasawuf pada nabi masih bersifat umum, ajarannya sudah ada hanya saja tasawuf itu sendiri merupakan istilah yang muncul setelah nabi kemudian pada masa tabiin
    seorang ulama’ yaitu Hasan Al-Basri, beliau di anggap tokoh yang paling sentral
    dalam ajaran kerohanian atau tasawuf. Hasan Al Basri merupakan orang yang
    mempraktikkan, berbicara dan menguraikan maksud  dari ajaran tasawuf  yang kemudian menjadi pembuka jalan bagi generasi berikutnya.
  2. Rabiah Adawiyah (w 195). Beliau dikenal sebagai ulama shufi’ wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita. Rabi’ah menganut ajaran Zuhud dengan menonjolkan falsafah Hubb (Cinta) dan syauq (rindu kepada Allah)
  3. Sufyan Ath- Thauri hidup tahun 97 H-161 H. Beliau termasuk salah seorang ulama shufi’ yang dikagumi karena ke zuhudan dan kealimannya.
  4. Makruf al Karkhi
  5. Daud Ath-Thaaiy,
  6. Abul Nun bin Ibrahim Al-Mishry (w246 H),

 

b. Sejarah perkembangan pada abad ke tiga dan ke empat

Dalam masa abad ke-3 dan abad ke-4 Hijriyah telah mengalami perkembangan tasawuf yang pesat . Pada masa ini terdapat dua kecenderungan para tokoh tasawuf. Pertama, cenderung pada kajian tasawuf yang bersifat akhlak yang di dasarkan pada al-Qur’an dan Al-Sunnah yang biasa di sebut dengan “Tasawuf Sunni” dengan tokoh-tokoh terkenalnya seperti :

  1. Imam Al-Ghazali (w 505 H), adalah puncak kecemerlangan tasawuf suni ini adalah pada masa al-Ghazali, yang karena keluasan ilmu dan kedudukannya yang tinggi, hingga ia mendapatkan suatu gelar kehormatan sebagai “Hujjatul Islam”. Karya besar beliau ialah kitab Ihya Ulumiddin.
  2. Haris al-Muhasibi (Basrah),
  3. Sirri as-Saqafi,
  4. Abu Ali ar-Ruzbani,
  5. Abu Sulaiman Ad-Daaraany,
  6. Junaid Al-Baghdadi (w 297 H) dan lain-lain.

ihya-ulumudin

Kelompok kedua, adalah yang cenderung pada kajian tasawuf filsafat, dikatakan demikian karena tasawuf telah berbaur dengan kajian filsafat metafisika. Adapun tokoh-tokoh tasawuf filsafat yang terkenal pada saat itu diantaranya:

  1. Abu Yazid al-Bustami (W. 260 H.) dengan konsep tasawuf filsafatnya yang terkenal yakni tentang “Fana dan Baqa” ( peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri Ilahi ), serta “Ittihad” (makhluk bersatu dengan Allah).
  2. Adapun puncak perkembangan tasawuf filsafat pada abad ke-3 dan abad ke-4, adalah pada masa Husain bin Mansur al-Hallaj (244-309 H ), ia merupakan tokoh yang dianggap paling kontroversial dalam sejarah tasawuf memakai konsep hulul ( Allah menempati dalam makhluk), sehingga ahirnya harus menemui ajalnya di tali gantungan.

 

c. Sejarah perkembangan pada abad ke lima dan enam

  1. Setelah itu muncullah Ibni Arabi (w 632H). Mendapat gelaran Sheikh Al Akbar. Menampilkan fahaman wahdatul wujud. Kitabnya terkenal Futuhul Makiyyah dan Fushuhul Hikam.
  2. Syeikh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari (w. 709) hidup di Mesir di masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Ia lahir di kota Alexandria (Iskandariyah), lalu pindah ke Kairo. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fikih mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Di waktu yang sama dia juga dikenal luas dibidang tasawuf sebagai seorang “Master” (Syeikh) besar ketiga di lingkungan tarekat sufi Syadziliyah Kitabnya yang terkenal Al Hikam

3587164_orig

Kemudiannya muncul pula beberapa aliran tasawuf amali, yang ditandai lahirnya beberapa tokoh tarikat besar seperti: Tarikat Qadiriyah oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani di Bagdad (470-561 H.), Tarikat Rifa’iyah yang didirikan oleh Ahmad bin Ali Abul Abbas ar-Rifa’I di Irak (W.578 H.) dan sebagainya. Dan sesudah abad ke-7 inilah tidak ada lagi tokoh-tokoh besar yang membawa idea tersendiri dalam hal pengetahuan tasawuf, kalau ada pun, hal itu hanyalah sebagai seorang pengembang ide para tokoh pendahulunya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google translate

Top 5 Web Hosting Terbaik Malaysia